Talenta Pro Patria et Humanitate

 INA |  ENG

Jl. Pawiyatan Luhur IV/1
Bendan Dhuwur
Semarang 50234
Telp. 024-8441555 (hunting)
Fax. 024-8415429, 8445265
e-mail: humas@unika.ac.id
www.unika.ac.id
Kita Belajar “Berbeda” Dengan Semangat Persaudaraan

Makam Pahlawan, (5/8) Rangkaian acara Dies Natalis Unika Soegijapranata ke 30 diisi dengan misa suci bertempat di Cungkup Makam Mgr. Albertus  Soegijapranata, SJ Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal. Misa konsilibrasi dipimpin oleh Romo Dr. A. Purwohadiwadaya, MSF didampingi oleh Romo Dr. Materius Kristiyanto, Pr dan Romo Dominicus Sukristiyono, Pr. Mengembangkan tema “Ketika perbedaan menjadi kurnia, maka perbedaan tersebut tidak perlu dipertentangkan lagi”.  Hadir pada misa tersebut menurut catatan buku tamu sebanyak dua ratus orang yang terdiri dari pejabat universitas, fakultas dan tenaga kependidikan beserta keluarga serta para mahasiswa. Koor yang bertugas dibagi berdasarkan gedung yang dikoordinir oleh pamong gedung. Tak lupa mahasiswa yang tergabung di Paroki Kampus mengambil bagian pada seksi paramenta dan organis.

Misa yang mengambil bacaan pertama Surat Rasul Santo Paulus kepada jemaat di Korintus (1 Kor 12:12-31) bercerita tentang kesatuan tubuh, walaupun anggotanya banyak. Sedangkan bacaan Kitab Suci Injil mengambil Injil Yohanes (6 : 25-35) bercerita tentang Bekerja, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai hidup yang kekal.

Homili yang memikat hati disampaikan oleh Romo Dr. A. Purwohadiwadaya, MSF mantan Rektor Unika Soegijapranata yang sekarang menjadi Dosen Seminari Tinggi Santo Paulus Yogyakarta, mengungkapkan pengalaman pribadi dan kedekatan dengan almarhum Mgr. Albertus  Soegijapranata, SJ.  Beliau memaknai bahwa sumbangan hidup kita hendaklah menjadi 100%  Katolik dan 100 % Indonesia tidaklah menjadi penghalang, karena Agama Katolik adalah agama yang universal berbeda dengan agama Yahudi yang hanya bagi orang Israel. Kita bersyukur karena liturgi agama Katolik berlaku sama di seluruh dunia, kecuali hanya bahasanya saja.

Pengalaman beliau ke luar negeri Belanda, Itali, India untuk belajar dan berkunjung di biara-biara tidak mengalami hambatan, setiap kali bertemu dengan sesama orang Katolik pasti diterima dengan senang hati dan tangan terbuka, walaupun ada kendala bahasa, tetapi itu justru menjadi pengalaman pribadi yang menyenangkan pada saat perayaan natal maupun paskah. Mengapa beliau dapat diterima dimana saja oleh orang Katolik, tak lain adalah ada satu  “titik temu” yaitu Katolik.

Demikian juga kalau di lingkungan Unika Soegijapranata kita melihat dari sisi perbedaanya saja maka, kita akan kehilangan titik temu. Perbedaan adalah kurnia tetapi masih ada catatan kakinya : Podo-podo Wong Unika,  adalah titik temu yang akan menyelesaikan segala permasalahan dan perbedaan yang setiap saat selalu bersentuhan dalam bekerja di ladang Tuhan.  Hal ini juga dihayati oleh para pecinta lingkungan baginya pohon, rumput bebatuan dan alam adalah teman (biocentris), bahkan wawasan mereka juga berkembang ke arah wawasan eco-centris, sebagaimana Santo Franciscus Asisi memahaminya bahwa matahari, bulan, hewan dan tumbuh-tumbuhan serta manusia adalah mahluk ciptaan. Kemampuan Santo Franciscus Asisi memahami ciptaan sampai dapat berkomunikasi dengan hewan. Memang perbedaan itu sebagai faktual, kalau tidak hati-hati perbedaan posisi dapat diartikan sebaliknya. Perbedaan adalah fakta, tetapi kita hargai sebagai karunia untuk saling melengkapi.

Pada tahun 2015 nanti kita semua memasuki Komunitas Asian, itu artinya generasi muda lulusan SMU dari Indonesia dapat belajar di luar negeri, sebaliknya tenaga asing dari luar negeri akan mencari pekerjaan di Indonesia, baik dosen maupun profesional lainnya. Tetapi kita tidak perlu takut, sebagai orang beriman melihat tantangan bukan sebagai hantu, tetapi sebagai karunia Tuhan, singsingkan lengan baju untuk bersaing dengan bangsa lain.

Usai misa dan tabur bunga di makam Mgr. A. Soegijapranata, SJ, dilakukan potong tumpeng oleh Rektor Unika Soegijapranata Prof. Dr. Ir. Yohanes Budi Widianarko, MSc sebagai ungkapan syukur atas Dies ke 30 Unika Soegijapranata. Tumpeng diberikan kepada dua mantan Rektor Unika, masing-masing Romo Dr. A. Purwohadiwadaya, MSF, Dr. Y Bagus Wismano, MS, wakil dosen Drs. R. Bowo Harcahyo, MBA dan perwakilan dari mahasiswa Sdr. Anggi.

Dalam sambutannya Rektor Unika Soegijapranata Prof. Dr. Ir. Yohanes Budi Widianarko, MSc, menyampaikan bahwa keberhasilan Unika bertahan sampai dengan 30 tahun tentu ada campur tangan Tuhan, selain itu peran tokoh dan leluhur dalam meletakkan pondasi penyelenggaraan pendidikan tinggi yang kita cintai.  Kabar baik dari hasil refleksi di Kaliurang yang diselenggarakan beberapa waktu yang lalu terwujud dengan meningkatnya minat mahasiswa baru yang masuk tahun ini. Semoga Unika dua belas ribu bukan hanya impian kosong.

Selain itu “Semesta Ikut Mendukung” dengan dibuatnya Film “Soegija” memberikan inspirasi dan warna baru dalam spirit di Unika Soegijapranata, selamat berkarya.  (juang saksono)

    Sintak | Mail Unika | Library | Guest Book | Privacy Policy Powered by: BMSI