Talenta Pro Patria et Humanitate

 INA |  ENG

Jl. Pawiyatan Luhur IV/1
Bendan Dhuwur
Semarang 50234
Telp. 024-8441555 (hunting)
Fax. 024-8415429, 8445265
e-mail: humas@unika.ac.id
www.unika.ac.id
Wisuda Sarjana Periode II - 2013

Dalam kesempatan Wisuda Periode II tahun 2013, Rektor Unika Soegijapranata melepas 339 wisudawan yangterdiri dari:

I.    7 (tujuh) Program Studi Magister meliputi:

a.

Magister Sains Manajemen

1

Wisudawan

b.

Magister Manajemen

2

Wisudawan

c.

Magister Lingkungan dan Perkotaan

1

Wisudawan

d.

Magister Sains Psikologi

4

Wisudawan

e.

Magister Profesi Psikologi

11

Wisudwan

f.

Magister Hukum Kesehatan

19

Wisudawan

g.

Magister Teknik Arsitektur

4

Wisudawan

 

II.    11 (sebelas) Program Studi Strata Satu meliputi:

a.

Program Studi Arsitektur

29

Wisudawan

b.

Program Studi Desain Komunikasi Visual

37

Wisudawan

c.

Program Studi Teknik Sipil

9

Wisudawan

d.

Program Studi Teknik Elektro

4

Wisudawan

e.

Program Studi llmu Hukum

14

Wisudawan

f.

Program Studi Manajemen

54

Wisudawan

g.

Program Studi Akuntansi

58

Wisudawan

h.

Program Studi Psikologi

30

Wisudawan

i.

Program Studi Teknologi Pangan

31

Wisudawan

J.

Program Studi Sastra Inggris

8

Wisudawan

k.

Program Studi Teknik Informatika

1

Wisudawan


 III. 1 (satu) Program Studi Diploma III     

a.    Program Studi Perpajakan                                                              22 Wisudawan

 

Dalam acara wisuda Rektor memberikan sambutan sebagai berikut :

SAMBUTAN REKTOR

Yang saya hormati

Para Guru Besar dan anggota Senat dan para Tamu Undangan Orang tua/wali Wisudawan/wati yang saat ini tengah berbahagia Para Wisudawan/wati yang saya banggakan dan kasihi Mahasiswa dan Hadirin sekalian

Salam damai, sehat, sejahtera untuk kita semua.

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan kasihNya sehingga kita semua untuk dapat berkumpul dalam suasana yang berbahagia ini. Segenap civitas academica Unika Soegijapranata mengucapkan selamat kepada segenap wisudawan/wati yang telah berhasil menyelesaikan studinya dari universitas ini. Kami juga menyampaikan ucapan selamat dan terimakasih kepada segenap orang tua/wali wisudawan/wati yang telah memilih universitas ini sebagai rumah belajar bagi putra/putrinya. Kami bangga boleh ikut mendampingi putra/ putri bapak ibu sekalian hingga berhasil diwisuda pada hari ini.

Hadirin yang saya hormati, khususnya para wisudawan dan wisudawati yang saya banggakan.

Tidak diragukan lagi, dalam perjalanan peradaban manusia di mana saja -termasuk di negeri ini - pendidikan tinggi telah menjadi sarana tranformasi individu. Sudah tidak terhitung lagi berapa jumlah putra-putri dari keluarga miskin yang mampu "naik kelas" sosial ekonomi akibat menempuh pendidikan tinggi. Sebagian besar pemimpin, tokoh politik, pejabat, pengusaha serta profesional yang terkemuka adalah lulusan perguruan tinggi.

Tetapi sayangnya, itu bukan satu-satunya wajah lulusan perguruan tinggi. Belakangan ini lulusan perguruan tinggi ternyata justru menjadi unsur perusak dalam kehidupan bangsa dan negara ini. Dunia pendidikan tinggi baru saja disentakkan oleh tertangkap-tangannya salah satu dosen terbaik di negeri ini dalam kasus penyuapan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Bagaimana tidak? Sang Kepala adalah seorang Guru Besar di Perguruan Tinggi yang telah melahirkan begitu banyak pemimpin, pejabat dan tokoh bisnis di negeri ini. Yang bersangkutan bahkan tercatat dua kali menjadi dosen teladan di kampusnya. Peristiswa tangkap tangan penyuapan yang konon terbesar dalam sejarah Indonesia ini benar-benar telah menampar wajah pendidikan tinggi negeri ini.

Melalui Rektornya, Institut Teknologi Bandung (ITB) segera meminta maaf pada masyarakat, pasca ditetapkannya Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini sebagai tersangka oleh KPK (nasional. sindonews.com). Dalam jumpa persnya (16/8/2013) Rektor ITB menyatakan "Menyikapi kasus yang melibatkan Rudi Rubiandini, staf pengajar ITB dan mantan kepala SKK Migas, ITB menyampaikan permohonan maaf yang mendalam pada masyarakat dan bangsa Indonesia atas kejadian memprihatinkan, menyedihkan, serta sangat tidak kita harapkan ini".

Anggota Majelis Guru Besar (MGB) ITB, Prof. (Emeritus) Soedjana Sapiie, menyatakan bahwa ini untuk kali pertama guru besar sepanjang sejarah perguruan tingginya. MGB-pun akan membahas keanggotaan yang bersangkutan sebagai guru besar. Kasus ini menambah jumlah korupsi yang dilakukan di Indonesia menjadi 7 kasus. Lebih menyedihkan lagi, Prof. Mahfud

MD, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD, awal Juni lalu mengungkapkan bahwa 80% dari pelaku korupsi yang sudah diproses ternyata lulusan perguruan tinggi dan di antara mereka ada yang bergelar guru besar.

Hadirin yang saya hormati, khususnya para wisudawan dan wisudawata yang saya banggakan.

Inilah ironi Indonesia, alih-alih menyumbangkan talenta pada bangsa dan negara - para pengenyam pendidikan tinggi - justru terlibat dalam kejahatan korupsi. Seperti dalam ungkapan "Corruption is a crime against humanity", korupsi yang berlangsung sistemik memang menghancurkan kemanusiaan. Korupsi dalam ranah SKK migas, dengan sendirinya terkait dengan permainan harga bahan bakar minyak (BBM) yang muaranya adalah mengorbankan rakyat selaku konsumen. Alokasi belanja rumah tangga yang tersedot untuk pembelian BBM, dengan sendirinya akan mengurangi kemampuan rumah tangga -terutama rumah tangga miskin - untuk membiayai kebutuhan hidup yang lain. Dan ketika yang harus dikorbankan adalah kesehatan, pangan, sanitasi atau pendidikan - maka serta merta rumah tangga itu akan gagal untuk manggapai kualitas hidup yang lebih baik.

Menghadapi realita pahit ini, perguruan tinggi ditantang untuk menumbuhkan pribadi-pribadi berintegritas. Diperlukan semangat yang tidak mudah koyak oleh godaan materialistik dan hedonikyang semakin masif dewasa ini. Perguruan tinggi harus mampu menjawab kebutuhan jaman ini, yaitu menumbuhkan dan melahirkan manusia-manusia otentik. Yang dimaksud otentik di sini adalah manusia yang berintegritas tinggi, meskipun menghadapi godaan dan tantangan besar dari segaia penjuru. Mereka ini adalah sosok yang siap mengalami "kesepian sorang pelari jarak jauh" (the loneliness of the long distance runner) (William George, 2003 "Rediscovering the Secrets to Creating Lasting Value Leadership"), la siap mengambil keputusan dan bertindak yang oleh umum dianggap tidak lazim, maka ia siap kesepian.

Untuk bisa mewujudkannya, perguruan tinggi harus berani menemukan kembali {reinventing) haluan karyanya. Integritas harus menjadi unsur utama dalam seluruh dinamika kampus. Dalam hal ini, keterlibatan seluruh unsur civitas academica - mutlak perlu. Tanpa keberanian untuk menemukan haluan baru itu, maka perguruan tinggi di negeri ini hanya akan menjadi "parasit gemuk" bagi mahluk inangnya - Indonesia. Panggilan mulia ini, tentu saja, tidak hanya berlaku bagi dunia kampus, di semua organisasi dan lembaga yang menjadi wahana karya para lulusan pendidikan tinggi, seperti perusahaan, jawatan dan lembaga swadaya masyarakat, tuntutan untuk mewujudkan integritas juga tidak bisa dikesampingkan. Saya berharap para wisudawan Unika Soegijapranata nantinya mengarungi lautan karya di dunia yang lebih luas berani mengambil prakarsa sebagai pelopor integritas. Anda sekalian harus berani merasakan senyapnya, kesepian seorang pelari jarak jauh. Hanya dengan begitu anda akan membantu mempercantik wajah ke-lndonesia-an - dan sekaligus menjadi pribadi yang paling berbahagia di garis finis kehidupan ini.

Terima kasih atas perhatiannya. Semoga Tuhan senantiasa Memberkati dan Membimbing kita sekalian.

 

Semarang, 31 Agustus 2013

Prof. Dr. Y. Budi Widianarko

Rektor

 

 

 

    Sintak | Mail Unika | Library | Guest Book | Privacy Policy Powered by: BMSI